Dunia akademik kita kembali mendapat tamparan keras. Baru-baru ini, publik digemparkan oleh terungkapnya sebuah grup obrolan (WhatsApp) yang berisi belasan mahasiswa dari salah satu fakultas hukum ternama di Indonesia. Mirisnya, banyak dari mereka bukanlah mahasiswa biasa, melainkan figur-figur yang memegang jabatan penting di organisasi kemahasiswaan kampus.
Apa yang mereka lakukan di dalam sana? Alih-alih berdiskusi soal akademis atau pergerakan mahasiswa, grup tersebut justru dijadikan wadah untuk melontarkan pelecehan seksual secara nonfisik (verbal). Mulai dari melontarkan komentar vulgar, mengobjektifikasi tubuh perempuan, hingga menjadikan isu kekerasan seksual sebagai lelucon belaka.
Kasus ini memunculkan satu pertanyaan besar di benak kita: Bagaimana bisa individu-figur yang secara akademik diakui pintar dan berpendidikan tinggi, justru memiliki adab yang sangat rendah di ruang digital?
Jawabannya bermuara pada satu masalah mendasar yang masih sering diabaikan di Indonesia: Krisis Etika Digital.
Literasi Digital Bukan Sekadar “Jago Main Gadget”
Sering kali, kita salah kaprah mendefinisikan literasi digital. Kita menganggap bahwa jika seseorang sudah mahir menggunakan smartphone, tahu cara membuat grup obrolan, atau fasih berselancar di media sosial, maka ia sudah melek digital.
Kecakapan menggunakan teknologi atau piranti lunak hanyalah satu pilar, yaitu Digital Skills. Kenyataannya, pintar memencet tombol tidak menjamin seseorang pintar dalam menempatkan diri.
Berdasarkan dokumen Peta Jalan Literasi Digital 2021-2024 yang dirilis oleh Kementerian Kominfo RI, terdapat empat pilar utama dalam Kerangka Kerja Literasi Digital, yaitu: Digital Skills (Kecakapan Digital), Digital Culture (Budaya Digital), Digital Safety (Keamanan Digital), dan yang paling relevan dengan kasus ini adalah Digital Ethics (Etika Digital).
Memahami Etika Digital (Digital Ethics)
Lalu, apa sebenarnya Etika Digital itu?
Pemerintah mendefinisikan Etika Digital sebagai kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan, dan mengembangkan tata kelola etika digital (netiquette) dalam kehidupan sehari-hari.
Singkatnya, etika di dunia nyata harus dibawa ke dunia maya. Sayangnya, ruang digital privat—seperti grup WhatsApp—sering kali menciptakan ilusi keamanan. Orang merasa berada di “ruang tertutup” bersama teman-teman satu frekuensi, sehingga merasa bebas untuk melepas topeng etika dan bertindak amoral. Padahal, apa yang diketik dan dikirim di ruang digital memiliki jejak yang tidak bisa dihapus begitu saja.
Membedah Kasus Lewat Lensa Kerangka Literasi Digital
Jika kita membedah perilaku para oknum mahasiswa tersebut menggunakan standar kurikulum literasi digital pemerintah, mereka terbukti gagal memenuhi kompetensi dasar Etika Digital:
- Gagal di Dasar 1 (Pemahaman Netiquette): Mereka mengabaikan pengetahuan dasar akan tata krama dan etika berinternet (netiquette). Meskipun berada dalam grup tertutup, tata krama untuk menghargai privasi dan martabat manusia—terutama perempuan yang menjadi objek perbincangan mereka—seharusnya tetap dijunjung tinggi.
- Gagal di Dasar 2 (Penyaringan Konten Toksik): Mereka tidak mampu membedakan informasi atau konten yang sejalan dengan etika, dan justru secara sadar memproduksi hingga mendistribusikan perundungan verbal dan muatan yang mengarah pada pornografi.
- Gagal di Dasar 3 (Interaksi yang Bermartabat): Mereka terbukti tidak memiliki pengetahuan dasar dalam berinteraksi, berpartisipasi, dan berkolaborasi di ruang digital sesuai dengan kaidah etika digital yang berlaku.
Kesimpulan: Ruang Privat Bukan Alasan untuk Hilang Etika
Kasus ini adalah cermin pahit sekaligus peringatan keras bagi kita semua. Gelar akademik, almamater bergengsi, atau jabatan mentereng di organisasi tidak ada artinya jika tidak diimbangi dengan empati kemanusiaan dan etika digital yang mumpuni.
Berlindung di balik kalimat pembelaan “ini kan cuma ruang privat” atau “ini cuma dark jokes internal” sama sekali tidak membenarkan perilaku merendahkan martabat orang lain. Sudah saatnya kita mengevaluasi diri dan lingkungan sekitar. Jadilah netizen yang tidak cuma pintar secara intelektual, tapi juga beradab secara digital.
Jangan ragu untuk bersuara jika Anda menemukan percakapan toksik serupa di lingkaran terdekat Anda. Karena diam, terkadang, sama dengan melanggengkan keburukan itu sendiri.
Mari Terhubung & Bertukar Pikiran! ☕🤝
Punya insight menarik, keresahan, atau butuh partner diskusi seputar tren, isu, maupun literasi di dunia digital?
Saya, Andri Wahyudi, selalu terbuka untuk ngobrol santai, sharing session, maupun peluang kolaborasi! Jangan ragu untuk menyapa saya di kolom komentar atau kirimkan Direct Message (DM) melalui media sosial saya.
Mari bangun ruang digital yang lebih baik bersama!

Tinggalkan Balasan